Kekurangan Kurikulum Merdeka perlu dipahami secara seimbang agar masyarakat tidak hanya melihat sisi positifnya saja. Kurikulum ini memang memberi ruang fleksibilitas bagi sekolah, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan kesiapan guru, fasilitas, manajemen sekolah, dan pemahaman orang tua.
Yuk melihat pembahasan ini dengan sudut pandang yang adil. Kurikulum Merdeka telah menjadi bagian dari kebijakan nasional melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, tetapi penerapan di slot 5k tidak selalu berjalan dengan kondisi yang sama.
Kekurangan Kurikulum Merdeka dalam Pelaksanaan Sekolah
Salah satu tantangan utama adalah perbedaan kesiapan antar sekolah. Sekolah yang sudah memiliki guru terlatih, perangkat ajar lengkap, dan budaya kerja yang kuat biasanya lebih mudah menyesuaikan diri. Sebaliknya, sekolah dengan keterbatasan sumber daya bisa merasa lebih berat.
Kondisi ini membuat pengalaman siswa bisa berbeda. Ada sekolah yang mampu menjalankan pembelajaran berbasis proyek dengan menarik, tetapi ada juga yang masih kebingungan menyusun kegiatan agar sesuai dengan tujuan kurikulum.
Guru Membutuhkan Waktu untuk Beradaptasi
Kurikulum Merdeka menuntut guru lebih aktif merancang pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membaca kebutuhan siswa, membuat asesmen, menyusun kegiatan, dan mengevaluasi proses belajar.
Bagi sebagian guru, perubahan ini bisa menjadi beban tambahan. Kajian terbaru tentang implementasi Kurikulum Merdeka mencatat tantangan seperti keterbatasan kesiapan guru, kesulitan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, asesmen formatif, ketimpangan sarana, serta lemahnya manajemen perubahan di sekolah.
Fleksibilitas Bisa Membingungkan Jika Arahnya Tidak Jelas
Fleksibilitas adalah keunggulan, tetapi bisa berubah menjadi masalah jika sekolah belum memiliki panduan kerja yang rapi. Guru dapat merasa bingung menentukan materi, strategi, atau bentuk penilaian yang paling sesuai.
Karena itu, kekurangan Kurikulum Merdeka bukan terletak pada gagasan fleksibilitasnya, tetapi pada kesiapan pelaksanaannya. Tanpa pendampingan yang cukup, sekolah bisa menjalankan kurikulum hanya sebagai formalitas administratif.
Orang Tua Perlu Ikut Memahami Perubahan
Sebagian orang tua masih terbiasa menilai keberhasilan anak dari angka rapor dan banyaknya tugas. Padahal, Kurikulum Merdeka lebih menekankan proses, karakter, dan pemahaman materi esensial.
Jika orang tua belum memahami arah baru ini, mereka bisa menganggap pembelajaran terlalu santai atau kurang serius. Padahal, perubahan cara belajar membutuhkan komunikasi yang jelas antara sekolah dan keluarga.
Penutup
Kekurangan Kurikulum Merdeka perlu dilihat sebagai catatan perbaikan, bukan alasan untuk menolak perubahan. Dengan pelatihan guru, fasilitas yang lebih merata, dan komunikasi yang baik, kurikulum ini dapat berjalan lebih kuat di lapangan.